Suku Bunga Tetap Aman, Ekonomi Indonesia Tahan Banting dari Badai Global

Finews 19 Aug 2026 17:19 • 2 min read • 39 views • By Redaksi

Share berita ini

Suku Bunga Tetap Aman, Ekonomi Indonesia Tahan Banting dari Badai Global
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. (Sumber artikel & foto: Siaran Pers BI No.28/162/DKom)

FinTrendNews,- Bank Indonesia (BI) resmi mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 18–19 Agustus 2026. Hasilnya? BI memutuskan buat hold suku bunga acuan alias BI-Rate di level 5,75%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility bertahan di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%.


Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. BI sengaja menjaga suku bunga tetap stabil demi memperkuat benteng nilai tukar Rupiah dari ketidakpastian global yang lagi memanas akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, langkah ini diambil buat mengawal target inflasi tetap di kisaran 2,5±1% untuk 2026–2027 sekaligus menjaga tren pertumbuhan ekonomi nasional tetap on-track.


Pertumbuhan Ekonomi RI Bikin Tenang

Di tengah ekonomi global yang diprediksi stagnan di angka 3,0% dan isu defisit anggaran AS, ekonomi Indonesia justru menunjukkan performa yang impresif. Pertumbuhan ekonomi nasional di Triwulan II-2026 sukses tembus 5,29% (yoy).


Penyokong utamanya datang dari stimulus fiskal pemerintah, mulai dari belanja pegawai, gaji ke-13, hingga alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk keseluruhan tahun 2026, BI memproyeksikan ekonomi Indonesia bakal tumbuh kokoh di kisaran 4,9–5,7%.


  • Gebrakan Baru: Bebas Biaya QRIS & KKI

Bukan cuma fokus di moneter, BI juga makin gaspol mendorong ekosistem keuangan digital yang inklusif lewat Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Ada beberapa poin menarik buat masyarakat umum dan pelaku usaha:


  • Untuk menjaga likuiditas di pasar uang dan perbankan tetap kencang, BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Per awal Agustus 2026, BI udah menyalurkan insentif KLM ke perbankan sebesar Rp446,5 triliun untuk disalurkan kembali sebagai kredit ke sektor-sektor prioritas.


Hasilnya, penyaluran kredit perbankan per Juli 2026 melonjak 13,58% (yoy). Ketahanan perbankan juga terbukti sangat sehat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di angka 23,70% dan rasio kredit bermasalah (NPL) neto yang sangat rendah di level 0,82%.


Sinergi antara BI, Pemerintah, dan KSSK bakal terus diperkuat demi memastikan ekonomi Indonesia tetap stabil dan tumbuh berkelanjutan di tengah dinamika dunia.(*) 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

FinTrend News