Nyungsep di Level Gocap, Saham GOTO Masih Layak Koleksi atau Saatnya Cut Loss?

Finews 27 Aug 2026 10:23 • 2 min read • 26 views • By Redaksi

Share berita ini

Nyungsep di Level Gocap, Saham GOTO Masih Layak Koleksi atau Saatnya Cut Loss?
Apakah level Rp50 ini menjadi area konsolidasi untuk berbalik arah (turnaround), atau justru mencerminkan sikap kehati-hatian pasar terhadap prospek pertumbuhannya? (gambar: gotocompany.com/)

FinTrendNews.online,- Pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau mendekam di level psikologis Rp50 per lembar. Fenomena harga saham raksasa teknologi ini memicu perdebatan sengit di kalangan investor ritel. Apakah level Rp50 ini menjadi area konsolidasi untuk berbalik arah (turnaround), atau justru mencerminkan sikap kehati-hatian pasar terhadap prospek pertumbuhannya?

Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (GIBEI) PWI Bengkulu, Dedi Hardiansyah Putra menjelaskan berdasarkan data perdagangan bursa, saham GOTO cenderung bergerak datar di level Rp50. Level ini tercatat sebagai batas bawah pasar reguler sekaligus support level terkuat dalam rentang pergerakan 52 minggu terakhir. Menurutnya secara teknikal, pergerakan ini menandakan adanya akumulasi pasar yang menahan tekanan jual lebih dalam. Namun, volume transaksi yang terbatas mencerminkan bahwa mayoritas pelaku pasar masih memilih posisi wait and see.

"Meskipun pergerakan harga sahamnya tertahan di level gocap, kinerja fundamental internal perseroan menunjukkan perbaikan yang nyata. GoTo berhasil menorehkan rekor positif dengan mencatatkan laba bersih secara beruntun sepanjang semester I-2026, yaitu sebesar Rp171 miliar pada Kuartal I dan Rp252 miliar pada Kuartal II. Total laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp607,5 miliar untuk periode Semester I-2026," jelas Dedi.


Dia juga mengungkapkan sektor layanan keuangan digital (fintech) dan pembayaran menjadi mesin pertumbuhan baru yang paling dominan. Peningkatan transaksi dan integrasi ekosistem mendorong pertumbuhan pendapatan serta profitabilitas operasional.


"Perseroan mempertahankan neraca keuangan yang relatif aman dengan posisi kas dan setara kas mencapai Rp23,5 triliun dari total aset Rp47,5 triliun," ujarnya.

Namun demikian, Dedi juga mengungkapkan sejumlah faktor risiko dan tantangan yang membayangi pergerakan harga saham GOTO, seperti resiko likuiditas saham Gocap. Kemudian sikap hati-hati investor global dalam arus modal asing pada saham teknologi turut mempengaruhi pergerakan harga saham GOTO.


"Harga saham di level Rp50 menciptakan tantangan psikologis dan likuiditas bagi investor ritel. Jika tekanan jual meningkat tanpa diimbangi oleh buying volume yang masif, saham berisiko tertahan lebih lama di area bawah," ungkapnya.


Dia juga mengungkapkan pemulihan finansial internal GoTo yang ditandai dengan perolehan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada 2026 memberikan fondasi fundamental yang membaik. Katalis utama yang dinantikan pasar adalah keberlanjutan ekspansi segmen fintech serta kemampuan manajemen dalam menjaga konsistensi profitabilitas hingga akhir tahun fiskal.(*)

Disclaimer: Artikel ini disajikan murni untuk tujuan informasi jurnalistik dan analisis berita ekonomi. Isi berita ini bukan merupakan nasihat, saran, ajakan, atau rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen investasi/saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing investor.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

FinTrend News