Rupiah Nyaris Menyentuh Rp18 Ribu, IHSG Kena Mental Turun 1,51 Persen Gara-Gara "Drama" Selat Hormuz

Finews 28 Sep 2026 17:30 • 2 min read • 51 views • By Redaksi

Share berita ini

Rupiah Nyaris Menyentuh Rp18 Ribu, IHSG Kena Mental Turun 1,51 Persen Gara-Gara "Drama" Selat Hormuz
Pasar keuangan Indonesia lagi tidak baik-baik saja pada perdagangan Senin, 28 September 2026

FinTrendNews ,- Nilai tukar rupiah 
melemah hingga menyentuh level Rp17.978 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut amblas 1,51 persen ke posisi 6.147,86.
Kondisi ekonomi domestik tiba-tiba ikutan " tidak aman" akibat kombinasi tekanan global, mulai dari panasnya tensi geopolitik Timur Tengah hingga ditampilkannya harga energi dunia.


Berdasarkan data Bloomberg , rupiah ditutup melemah 75 poin atau 0,42 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di posisi Rp17.903 per dolar AS. Pergerakan ini membuat Rupiah semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang menandakan tingginya sensitivitas pasar kita terhadap sentimen luar.


Senasib dengan rupiah, pasar saham juga lagi babak belur. Data Stockbit mencatat IHSG anjlok 94,03 poin dari posisi sebelumnya di 6.241,89. Sepanjang hari, indeks sempat menyentuh titik terendahnya di 6.140,34 meski sempat mencoba rebound tipis di awal sesi.


Padahal, aktivitas transaksi terbilang cukup ramai dengan nilai transaksi reguler mencapai Rp9,34 triliun, yang menunjukkan aksi jual-beli sedang tinggi-tingginya.


Selat Hormuz Jadi Biang Kerok


Usut punya usut, biang keladi di balik ambruknya pasar kali ini adalah situasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran minyak vital dunia itu tengah bergejolak setelah Iran tetap ngotot dengan persyaratannya untuk membuka kembali jalur tersebut, sementara pihak Amerika Serikat sempat menolak proposal itu.


Meski pembicaraan damai dikabarkan akan berlanjut dengan Qatar sebagai mediator, ini akan membuat pelaku pasar panik. Gangguan di Selat Hormuz otomatis memicu kekhawatiran menyajikan harga minyak global.


Dampaknya langsung merembet ke Indonesia. Harga Minyak Indonesia ( Harga Minyak Mentah Indonesia /ICP) pada Agustus lalu tercatat sudah naik ke level USD89,43 per barel, jauh melampaui perkiraan APBN 2026 yang dipatok sebesar USD70 per barel. Kalau harga minyak terus-terusan tinggi, beban subsidi energi negara tentu terancam bengkak.


Respon Bank Indonesia dan Saham yang Ikut Terseret


Di tengah gempuran sentimen eksternal ini, Bank Indonesia (BI) sebenarnya tidak tinggal diam. Posisi cadangan devisa per akhir Agustus 2026 tercatat masih aman di angka USD146,5 miliar, cukup untuk membiayai sekitar 5,4 bulan impor. Suku bunga acuan (BI-Rate) juga bertahan di level 5,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah di tengah inflasi tahunan Agustus yang berada di kisaran 3,19 persen.
Namun, investor di pasar saham sepertinya memilih untuk risk-off. Sejumlah saham blue chip alias berkapitalisasi besar ikut terseret arus merah. Saham perbankan raksasa seperti BBCA terkoreksi tipis 0,40 persen menjadi Rp6.225, dan BBRI turun 0,32 persen menjadi Rp3.140. Tekanan bahkan lebih terasa pada saham emiten tambang seperti ANTM yang merosot hingga 4,02 persen.(*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

FinTrend News